Langsung ke konten utama

PMII SEBAGAI PENYEIMBANG KEKUASAAN

 Implementasi Nilai, Prinsip, dan Ajaran Organisasi 

Internasionalisasi atau globalizing PMII adalah wujud implementasi dari prinsip, nilai, dan ajaran organisasi itu sendiri. Paham dan ajaran Ahlusunnah wal Jamaah atau Aswaja tidak cukup hanya dimaknai sebagai pedoman dalam ritus sakral semata. Lebih dari itu, Aswaja harus dijadikan sebagai metode berpikir keagamaan yang lebih terbuka, adaptif, toleran, mencakup semua aspek kehidupan manusia, dan tidak terbatas sekat ruang dan waktu. Lainnya, Nilai Dasar Pergerakan atau NDP PMII sebagai kalimatun sawa (tali pengikat) mengajarkan bahwa penting untuk menjaga hubungan baik antarsesama manusia atau hablum minannas. Sudah seharusnya bahwa kita sadar akan kelebihan kekurangan sebagai manusia sehingga harus saling menghormati, tolong-menolong, dan bekerja sama untuk mewujudkan tatanan kehidupan bersama. Paham tersebut menekankan bahwa tidak ada lagi superioritas, dominasi, dan subversi antarmanusia di dunia, yang ada hanya persamaan dan keadilan untuk semua. Dalam konteks ini, globalizing PMII dan diaspora PMII sama dengan membuka cara pandang masyarakat luas dan internal organisasi untuk secara inklusif menerima fakta historis dan sosiologis tentang multikulturalisme dan perbedaan yang ada. PMII selalu berpegang teguh pada moderatisme dan keseimbangan -tidak konservatif dan tidak pula liberal- dalam hal apapun. Sejak lahirnya hingga kini, PMII meyakini bahwa kehidupan beragama tidak boleh hanya terjebak pada simbol formal dan eksklusivitas keagamaan, melainkan harus mencapai inti dan substansi dari agama itu sendiri. Dalam Islam misalnya, agama harus hadir sebagai rahmat lil alamin, ramah, penuh kedamaian, dan membawa keselamatan semesta, bukan teror, kebencian, apalagi kekerasan atas nama agama


PMII Simbol Penyeimbang Kekuasaan

Kita sebagai warga dan kader PMII harus bisa menyelaraskan antara nilai nilai PMII dengan arah gerakan kita sebagai warga dan kader. Pun juga dalam fungsi penyeimbang yang sudah tertera didalam ndp sebagai landasan berfikir, warga dan kader PMII di era globalisasi dan kemajuan zaman yang sangat pesat ini harus bisa menjadi pembeda di kala semua lapisan masyarakat sudah terdoktrinisasi oleh pragmatisme dalam kehidupan sehari hari, contohnya sekarang masyarakat kalangan menengah kebawah hanya memikirkan bagaimana cara mendapat bansos sebanyak banyaknya dari pemerintah tanpa mengetahui darimana asal pendanaan bansos tersebut, dan acuh terhadap regulasi regulasi yang sudah ditetapkan dan diterapkan oleh kekuasaan. Saya ambil contoh bansos yang di gelontorkan menjelang pemilu datang, meurut saya ini sangat berbahaya dalam roda demokrasi negara kita, bukan bansosya yang dipermasalahkan tetapi bansos yang dipolitisasi ini lah yang sangat berbahaya. Kekuasaan tidak peduli anggaran darimaa saja yang harus dipangkas guna memenuhi kebutuhan bansos yang pilitisasi untuk mempelancar agenda politik, anggaran pendidikan, anggaran kesehatan dan juga anggaran pelayanan publik yang terkena imbasnya ini yang saya sebut sangat bahaya jika kita sebagai penyeimbang kekuasaan gagal dalam melaksanakan tugasnya. Hendaklah warga dan kader PMII sadar dari kesewenang wenangan pemerintah agar bisa menyadarkan masyarakat luas khusunya kalangan menengah kebawah 

Warga dan kader PMII harus bisa mengambil peran di setiap lapisan lapisan masyarakat agar menciptakan keadilan dan kesadaran bersama, peran konkrit yang bisa dilakukan warga dan kader PMII diantaranya:

Kaderisasi Intelektual: PMII berfokus pada kaderisasi intelektual yang kritis dan profesional. Kader-kader PMII diharapkan menjadi pemimpin-pemimpin yang berbudi luhur dan berilmu, sehingga dapat mempengaruhi kebijakan dan politik Indonesia secara lebih efektif.

Komitmen Kebangsaan: PMII memiliki komitmen yang kuat terhadap kebangsaan Indonesia. Organisasi ini terlibat dalam proses peralihan Orde Lama ke Orde Baru dan telah menjadi bagian dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dan Kesatuan Aksi, menunjukkan peran PMII dalam mempertahankan kebhinekaan dan kestabilan politik Indonesia.

Transformasi Sumber Daya Manusia: PMII telah melahirkan banyak kader yang turut serta mewarnai kancah perpolitikan nasional, baik di wilayah eksekutif maupun yudikatif. Kader-kader PMII diharapkan menjadi sumber daya manusia yang unggul dan dapat mempengaruhi kebijakan negara.

Kekuatan dalam Membentangi Kebhinekaan: PMII memiliki kekuatan yang lebih dalam membentengi kebhinekaan di Indonesia. Organisasi ini harus terus diperkuat dalam komitmen kebangsaan dan berperan aktif dalam menegakkan kebenaran di negeri tercinta[2].

Dengan demikian, PMII berperan sebagai penyeimbang kekuasaan dengan cara menghasilkan kader-kader yang berilmu dan berbudi luhur, serta terlibat aktif dalam proses kebangsaan dan politik Indonesia.


Penulis : Sahabat Rafa Febryan Nugraha Damhudi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

                               MALAM PUNCAK SIG PMII RAYON PBS Sebagai tim yang mengikuti langsung proses dokumentasi kegiatan Sekolah Islam Gender (SIG), kami di MediaMovement tidak hanya menyaksikan peristiwa demi peristiwa, tapi juga merasakan energi perubahan yang tumbuh dalam setiap sesi, hingga akhirnya meledak dalam panggung spektakuler bertajuk Gebyar Wajah Rayon 1 (GWR 1) . GWR 1 bukan sekadar malam puncak, ia adalah manifestasi dari gagasan dan kesadaran yang dibangun selama SIG. Pementasan seni tari, orasi-puitis, live music, hingga teater bertema patriarki bukanlah hiburan kosong. Setiap gerakan dan dialog adalah protes, kritik, sekaligus harapan—khususnya saat teater menyentuh isu “ sifat walid ”, simbol dominasi dalam struktur sosial yang seringkali tak disadari. Kami melihat bagaimana peserta SIG menjadikan panggung sebagai ruang aman untuk bersuara, untuk menggetarkan dindin...

Apakah penting ruang literasi bagi mahasiswa?

Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Penggiat literasi di ranah mahasiswa pada saat ini bisa saya katakan sangat minim,ada beberapa hal yang mempengaruhi merosot nya minat membaca, ruang literasi,tentu saja hegemoni-hegemoni yang sering mendominasi kejiwaannya,secara tidak sadar semakin tergerus kedalam zona yang membuat dirinya sulit berkembang. Di sela sela kehidupan yang kita jalani selama menjadi mahasiswa,sering terdengar bahasa literasi,yang dimana kita sering di kenali literasi ada sebuah ruang untuk mengembangkan potensi cara beretorika yang baik,dan berdialektika secara sistematis sehingga literasi terasa berharga karena manfaat ketika kita meninggalkan ruang literasi memiliki banyak pemahaman-pemahaman baru ...

Sudah PMII kah kita?

  Pergerakan mahasiswa siswa Islam Indonesia. Secara basis masa tidak perlu untuk di kalkulasikan kuantitas nya,setiap pergguruan tinggi tingkatan rayon, komisariat mampu merekrut anggota dengan basis masa yang bisa dibilang fantastis,dengan metode pengenalan historis PMII yang konsisten dengan faham Islam ahlussunah wal jamaah,dan asas tunggal Pancasila dalam bernegara. Pengenalan PMII secara kaderisasi formal bermula dengan tahapan MAPABA (masa penerimaan anggota baru) degan dikenalkan ideologis PMII dan identitas mahasiswa yang mempunyai peran penting dalam lingkup sosial. Di berikan citra diri sebagai insan Ulul Al-Bab,anggota/kader PMII yang memiliki keyakinan untuk memperjuangkan idealisme mahasiswa di garis perjuangan bersama PMII,di bekali sikap yang yang harus di pegang teguh dalam rumusan setiap gerak,ketauhidan dalam hal ini kita memasrahkan diri terhadap Allah SWT, -hablumninallah -habluminannas -dan habluminalalam Perinsip ini harus tetap konsisten demi terwujudnya rua...